27 Desember 2010


Kehamilan

KEHAMILAN

A. Pembuahan, nidasi dan plasentasi
Syarat terjadinya kehamilan adalah harus adanya sperma, ovum, pembuahan ovum (fertilisasi/konsepsi) oleh sperma dan nidasi hasil konsepsi tersebut.

1. Sperma
Dalam pertumbuhan embrional sperma bersasal dari sel-sel primitif tubulus-tubulus testis. Setelah janian dilahirkan, jumlah spermatogonium yang ada tidak mengalami –perubahan hingga masa pubertas tiba. Pada masa pubertas sel-sel spermatogonium tersebut dibawah pengaruh sel-sel interstisisal leydig mulai aktif mengadakan mitosis dan terjadilah spermatogenesis yang amat kompleks tersebut. Tiap spermatogonium membelah dua dan menghasilkan spermatosit pertama, dimana spermatosit pertama ini membelah dua menjadi spermatosit kedua, spermatosit kedua membelah lagi tetapi dengan hasil bahwa dua spermatid masing-masing memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah yang khas untuk jenis itu. Dari spermatid ini kemudian tumbuh menjadi spermatozoon.

2. Ovum
Pertumbuhan embrional oogonium yang kelah menjadi ovum terjadi di genital ridge, dan di dalam kandungan jumlah oogonium bertambah terus sampai pada kehamilan enam bulan. Pada waktu dilahirkan, bayi mempunyai sekurang-kurangnya 750.000 oogonium, jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel-folikel. Pada umur 6 – 15 tahun ditemukan 439.000, pada usia 16 – 25 tahun hanya 34.000, pada menopause semua akan menghilang.
Sebelum janian dilahirkan, sebagaian besar oogonium mengalami perubahan-perubahan pada nukleusnya, terjadi juga migrasi daro oogonium-oogonium ke arah kortek ovarii, hingg pada waktu dilahirkan kortek ovarii terisi dengan promordial ovarian follicles. Padanya dapat terlihat bahwa kromozomnya telah berpasangan, DNAnya berduplikasi, yang berarti bahwa sel menjadi tetraploid. Perteumbuhan selanjutnya terhenti oleh sebab yang belum diketahui sampai folikel itu terangsang dan berkembang lagi ke arah kematangan. Sel yang terhenti dalam profase meiosis dinamakan oosit pertama. Oleh rangsangan FSH meiosis (pembelahan ke arah kematangan) terjadi terus, benda kutub (polar body) pertama disisihkan dengan hanya sedikit sitoplasma, sedangkan oosit ke dua ini berada di dalam sitopalsama yang cukup banyak.
Proses pembelahan ini terjadi sebelum ovulasi, proses ini disebut pematangan pertama ovum; pematangan ke dua ovum terjadi ketika spermatozoon membuahi ovum.

3. Pembuahan
Jutaan spermatozoon dikeluarkan di forniks vagina dan di sekitar porsio pada waktu koitus, hanya beberapa ratus ribu spermatozoon yang dapat meneruskan perjalanan ke kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus yang dapat sampai ke bagian ampulla tuba dimana spermatozoon dapat memasuki ovum yang telah siap dibuahi dan hanya satu spermatozoon yang mempunyai kemapuan untuk membuahi ovum tersebut. Pada apermatozoon ini ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya dan kaputnya lebih mudah menembus oleh karena diduga dapat melepaskan hialuronidase.
Ovum yang dilepaskan oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-mikrofilamen fimbria infundibulum ke arah ostium tuba abdominale dan disalurkan terus kearah medial. Ditengah-tengahnya dijumpai nukleus yang berada dalam metafase dalam pembelahan pematangan ke dua, terapung-apung dalam sitoplasma yang kekuning-kuningan yakni vitellus, vitellus ini banyak mengandung zat hidrat arang dan asam amino.
Ovum dilingkari oleh zona pellusida, di luar zina pellusida ini ditemukan sel-sel korona radiata, dan didalamnya terdapat ruang perivitellina, tempat benda-benda kutub. Bahan –bahan dari sel-sel korona radiata dapat disalurkan ke ovum melalui saluran-saluran halus di zona pellusida. Jumlah sel-sel korona radiata di dalam perjalanan ovum di ampulla tuba makin berkurang, hingga ovum hanya dilingkari oleh zona pellusida pada waktu berada di dekat perbatasan ampulla dan ismus tuba, tempat umumnya pembuahan terjadi. Hanya satu spermatozoon yang telah mengalami kapasitasi, dapat melintasi zona pellusida masuk ke vitellus, sesudah itu zona pellusida segera mengalami perubahan dan mempunyai sifat tidak dapat dilintasi oleh spermatozoon lainnya. Spermatozoon yang telah memasuki vitellus kehinlangan membran nukleusnya, yang tinggal hanya pronukelusnya. Masuknya spermatozoon ke vitellus membangkitkan nukleus ovum yang masih dalam metafase untuk pembelahan-pembelahannya. Sesudah anafase kemudian timbul telofase dan benda kutub (polar body) kedua menuju keruang polivitellina. Ovum sekarang hanya mempunyai pronukleus yang haploid. Pronukleus spermatozoon telah mengandung juga jumlah kromozom yang haploid.
Kedua pronuklei dekat mendekati dan bersatu membentuk zigot yang terdiri atas bahan genetika dari wanita dan pria. Pada manusia terdapat 46 kromozom, terdiri dari 44 kromozom otosom dan 2 kromozom kelamin; pada pria satu X dan satu Y. setelah pembelahan kematangan maka ovum matang mempunyai 22 kromozom otosom serta satu kromozom X, dan satu spermatozoon mempunyai 22 kromozom otosom serta 1 kromozom X atau 22 kromozom otosom serta 1 kromozom Y. zigot hasil pembelahan yang mempunyai 44 kromozom serta dua kromozom X akan tumbuh sebagai seorang janin wanita sedangkan kalau mempunyai 44 kromozom serta 1 kromozom Y akan menjadi seorang janian laki-laki.
Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot, hal ini berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok sel-sel yang besarnya sama. Hasil konsepsi berada dalam stadium morula. Energi untuk pembelahan ini diperoleh dari vitellus, hingga volume vitellus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. Dengan demikina zona pellusida tetap utuh, atau dengan perkataan lain beasarnya hasil konsepsi tetap sama, kemudian hasil konsepsi ini akan disalurkan terus ke pars ismika dan pars interstisialis tuba (bagian-bagian tuba yang sempit) dan terus ke arah kavum uteri oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai stadium blastula.

4. Nidasi
Pada stadium blastula ini sel-sel yang lebih kecil yang membentuk dinding-dinding blastula akan menjadi trofoblas. Dengan demikian, blastula diselubungi oleh suatu simpai yang disebit trofoblas. Trofoblas yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan dan mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi, dengan sel-sel desidua. Sel-sel desidua ini beasr-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. Balstula dengan bagian yang mengandung inner-cell mass aktif mudah masuk ke dalam lapisan desidua, dan luka pada desidua kemudian menutup kembali. Kadang-kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovum ke dalam endometrium terjadi perdarahan sedikit pada luka desidua (tanda Hartman).Umumya nidasi terjadi di dinding depan atau belakang uterus, dekat pada fundus uteri, jika nidasi ini terjadi, barulah disebut adanya kehamilan. Lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi kearah kavum uteri disebut desidua kapsularis; yang terletak antara hasil konsepsi dan dinding uterus disebut desidua basalis; disitu plasenta akan dibentuk. Desidua yang meliputi dinding uterus yang lain adalahdesidua parietalis. Hasil konsepsi sendiri diselubungi oleh jonjot-jonjot yang dinamakan villi koriales dan bengrpangkal pada korion. Bila nidasi telah terjadi, mulailah diferensiasi sel-sel blastula, sel-sel yang lebih kecil, yang dekat dengan ruang eksoselom membentuk entoderm dan yolc sac, sedangkan sel-sel yang lebih besar menjadi ektoderm dan membentuk ruang amnion. Dengan ini di dalam blastula terdapat suatu embryonal plate yang dibentuk antara dua ruangan, yakni ruang amnion dan yolk sac.
Sel-sel fibrolas mesodermal tumbuh disekitar embrio dan melapisi pula sebelah dalam trofoblas. Dengan demikian terbentuk choroinic membrane yang kelak menjadi korion. Trofoblas yang amat hiperplastik itu tumbuh tudak sama tebalnya dan dalam dua lapisan. Di sebelah dalam dibentuk lapisan sitotrofoblas (terdiri atas sel-sel yang monokleus) dan disebelah luar lapisan sinsisiotrofoblast terdiri atas nukleus-nukleus, tersebar tak rata dalam sitoplasma.
Selain iti villi koriales yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh dan bercabang-cabang dengan baik, di sini korion disebut korion frondosum. Yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang mendapatkan makanan, karena hasil konsepsi bertumbuh ke arah kavum uteri sehingga lambat laun menghilang; korion yang gundul disebut korion laeva.
Dalam tingkat nidasi trofoblas antara lain menghasilkan hormon human corionic gonadotropin dimana produksinya meningkat sampai kurang lebih hari ke 60 kehamilan untuk kemudian turun lagi, diduga fungsi HcG ini adalah mempengaruhi korpus luteum untuk tumbuh terus, dan menghasilkan terus progesteron, sampai plasenta dapat membuat cukup progesteron sendiri, adanya hormon ini juga menunjukan adanya kehamilan, dan biasanya ditemukan dalam air kencing wanita yang menjadi hamil.
Pertumbuhan embrio terjadi dari embryonal plate yang selanjutnya terdiri dari ata tiga unsur lapisan yaitu sel-sel ektoderm, mesoderm dan entoderm, sementara ruang amnion tumbuh cepat dan mendesak eksoselom; akhirnya dinding ruang amnion mendekati korion. Mesoblas antara ruang amnion dan embrio menjadi padat, dinamakan body stalk dan merupakan hubungan antara embrio dan dinding trofoblas, body stalk menjadi tali pusat. Di tali pusat terdapat pembuluh-pembuluh darah sehingga disebut juga vascular sac. Dari perkembangan ruang amnion dapat dilihat bahwa bagian luar tali pusat berasal dari lapisan amnion, dan di dalamnya terdapat jaringan lembek yang disebut selei Wharton, yang berfungsi melindungi arteria umbilikalis dan 1 vena umbilikalis yang berada di tali pusat. Kedua arteri dan satu vena tersebut menghubungkan satu sistem cardiovaskular janin dan plasenta, dimana sistem cardiovaskular janin terbentuk pada kira-kira minggu ke 10, organogenesis diperkirakan selesai pada minggu ke 12 dan disusul oleh masa fetal dan perinatal. Darah ibu dan janin dipisahkan oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.

B. Plasenta dan likuor amnni
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan teballebih kurang 2,5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah; keadaan ini disebut insersio sentralis. Bila hubungan ini agak ke pinggir disebut insersio lateralis dan bila dipinggir plasenta disebut insersio marginalis. Kadang-kadang tali pusat berada di luar lapisan plasenta dan hubungan dengan plasenta melalui selaput janin, hal ini disebut insersio velamentosa. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang lebih 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Meskipun ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan kearah koroin namun amnion hanya menempel saja, tidak sampai melekat pada korion. Letak plasenta umumnya di depan atau belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundud uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas sehingga lebih banyak ruang untuk berimplantasi, plasenta berasal dari segaian besar janin yaitu villi koriales yang berasal dari korion dan segaian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.
Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sitole darah dengan tekanan 70 – 80 mmHg disemprotkan ke dalam ruang interviller sampai mencapai corionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.
Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat pula suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang intervillier diatas disebut sinus marginalis. Darh ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume kurang lebih 150 – 250 ml. permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas 11 m² , hal ini yang menjamin pertukaran zat-zat makanan.
Fungsi plasenta adalah mengusahakan janin tumbuh dengan baik, dimana untuk pertumbuhan ini diperlukan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu, dari hal tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa fungsi plasenta adalah sebagai alat yang memberi makanan pada janin, sebagai alat yang mengeluarkan sisa metabolisme, sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2 9respirasi), sebagai alat pembentuk hormon, sebagai alat menyalurkan antibodi ke janin, dan hal-hal lain yang belum diketahui.
Di dalam ruang yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion dan korion terdapat liquor amnii/cairan ketuban, volumenya pada wanita hamil cukup bulan sekitar 1000 – 1500 ml; warna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis, berat jenis 1,008 terdiri ata 98 % air dan sisanya adalah garam anorganik serta bahan organik, mikroskopis juga terdapat lanugo, sel-sel epitel dan verniks kaseosa, protein juga ditemukan rata-rata 2,6 % gram per liter, sebagina besar sebagai albumin. Terdapatnya lesitin dan sfingomielin amat penting untuk mengetahui apakah janin mempunyai paru-paru yang sudah siap untuk berfungsi, dengan peningkatan kadar lesitin permukaan alveolus paru-paru diliputi oleh suatu zat yang dinamakan surfactan dan merupakan syarat untuk berkembangnya paru-paru untuk bernapas.
Ketuban mempunyai fungsi melindungi janin terhadap trauma dari luar, memungkinkan janin bergerak bebas, melindungi suhu tubuh janin, meratakan tekanan di dalam uterus pada partus sehingga serviks membuka, membersihkan jalan lahir - jika ketuban pecah – dengan cairan steril dan mempengaruhi keadaan di dalam vagina, sehingga bayi kurang mengalami infeksi.

C. Persalinan
1. Fisiologi persalinan
Partus adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar :
a) Partus immaturus adalah partus yang terjadi pada kehamilan lebih dari 20 minggu kurang dari 28 minggu dengan berat janin antara 500 – 1000 gram.
b) Partus prematurus adalah partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum a term (cukup bulan), berat janin antara 1000 – 2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu.
c) Partus post maturus atau serotinus adalah partus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan.
d) Abortus adalah terhentinya kehamilan sebelum janin viabel, berat janin di bawah 500 gram atau tua kehamilan di bawa 20 minggu.
e) Partus luar biasa atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan pervaginam dengan cunam, atau ekstrator vakum, versi dan ekstrasi, dekapitasi, embriotomi dsb.

2. Sebab-sebab mulainya persalinan
Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks, faktor humoral, pengeruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh sraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partus. Perubahan-perubahan dalam biokimia dan biofisika banyak mengungkapkan mulai terjadinya dan berlangsungnya partus, antara lain penurunan kadar progesteron dan estrogen, dimana progesteron diketahui sebagai penenang otot-otot uterus. Menurunnya kadar hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai. Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga a term meningkat, terlebih waktu partus.
Seiring dengan bertambahnya umur kehamilan maka plasentapun akan “menjadi tua” sehinga villi koriales mengalami perubahan-perubahan sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.
Keadaan uterus yang terus-meneur membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot-otot uterus, hal ini mungkin menjadi faktor yang dapat mengganggu vaskularisasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi, berkurangnya nutrisi juga diduga menyebabkan hasil konsepsi akan segera dikeluarkan (teori berkurangnya nutrisi Hippocrates), faktor lain yang diperkirakan berpengaruh adalah tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauster yang terletak dibelakang serviks, bila ganglion ini tertekan maka kontraksi uterus dapat dibangkitkan.

3. Berlangsungnya persalinan normal
Partus dibagi dalam 4 kala, kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. kala ini dinamakan kala pembukaan, kala II disebut juga sebagai kala pengeluaran oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan ibu maka janin didorong keluar sampai lahir, kala III adalah kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan, kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam, pada kala ini iamati apakah terdapat perdarahan post partum.

a. Kala I
Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan waita tersebut mengeluarkan lendir bersemu darah (bloody show), lendir ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena cerviks mulai membuka atau mendatar, sedangkan darahnya berasal dari pembuluh darah-pembuluh darah kapiler yang berada disekitar kanalis servikalis yang pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka.
Proses membukanya serviks sebagai akibat dari his dibagib menjadi 2 fase :
1) Fase laten : berlangsung selama 8 jam, pembukaan dapat terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran 3 cm.
2) Fase aktif : dibagi dalam 3 fase yaitu :
a) Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 menjadi 4 cm.
b) Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c) Fase deselerasi, pembukan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam dari pembukaan 9 cm menjadi pembukaan lengkap.
Fase-fase tersebut diatas dijumpai pada primigravida. Pada multi gravidapun terjadi demikian tetapi fase laten, fase aktif dan fase deselerasi terjadi lebih pendek. Kala I selesai jika pembukaan telah lengkap, pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam.

Kemajuan persalinan kala I :
 Temuan berikut menunjukan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala I :
- Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekuensi dan durasi.
- Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm per jam selama persalinan, fase aktif (dilatasi serviks langsung atau disebelak kiri garis waspada).
- Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

 Kemajuan yang kurang baik :
- Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten.
- Atau kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm per jam selama persalinan fase aktif (dilatasi serviks di sebelah kanan garis waspada).
- Atau serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

 Kemajuan pada kondisi janin :
- Jika didapati denyut jantung janin tidak normal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali per menit), curigai adanya gawat janin.
- Posisi atau presentasi selain oksiput anterior dengan verteks fleksi sempurna digolongkan ke dalam malposisi dan malpresentasi.
- Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan yang lama, tangani penyebab tersebut.

 Kemajuan pada kondisi ibu :
Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada ibu :
- Jika denyut nadu ibu meningkat, mungkinia sedang mengalami dehidrasi atau kesakitan, pastikan hidrasi baik/cukup, melalui oral atau IV dan berikan analgetik secukupnya.
- Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan.
- Jika terdapat aseton dalam urine ibu curigai masukan nutrisi yang kurang, segera berikan dekstrose per IV.

a. Kala II
Pada kala II ini his menjadi lebih kuat dan cepat, kira-kira 2 sampai 3 menit sekali, pada kala ini biasanya kepala janin sudah masuk ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan, kemudian peroneum mulai menonjol dan menjaadi lebar dengan anus maembuka, labia milai membuka dab tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his dan dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dengan soboksiput di bawah simfisis dan dahi, muka, dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat sebentar his mulai lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota badan bayi. Pada primigravida kala II berlangsung rata-tara 1,5 jam, pada multi rata-rata 0,5 jam.

Penanganan :
 Memberikan dukungan terus-menerus pada ibu
 Menjaga kebersihan
 Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan.
 Mengatur posisi ibu senyaman mungkin, jongkok, menungging, tidur miring atau setengah duduk.
 Menjaga kandung kemih tetap kosong, anjurkan ibu untuk berkemih sesering mungkin.
 Memberikan cukup minum.

Kelahiran kepala bayi:
 Mintalah ibu mengedan atau meberikan sedikit dorongan saat kepala bayi lahir.
 Letakan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat.
 Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan.
 Mengusap muka bayi untuk membersihkan dari lendir,kotoran,darah.
 Periksa tali pusat, jika mengelilingi leher dan terlihat lpnggar selipkan melalui kepala bayi, jika terlaku ketat, klem tali pusat pada dua tempat kemudian potong di antara klem sambil melindungi kepala bayi.

Kelahiran bahu dan anggota badan seluruhnya
 Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya.
 Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi.
 Lakukan tarikan lembut ke bewah untuk melahirkan bahu depan.
 Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang.
 Selipkan satu tangan kebahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala bayi dan selipkan tangan satunya ke punggung bayi untuki mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya.
 Letakan bayi tersebut diatas perut ibunya.
 Secara menyeluruh, keringkan tubuh bayi, bersihkan matanya, nilai pernapasan bayi, jika bayi menangis atau bernapas tinggalkan bersama ibunya, jika dalam 30 detik bayi tidak bernapas MINTALAH BANTUAN dan segera resusitasi bayi.
 Klem dan potong tali pusat.
 Pastikan bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit dengan dada ibunya, bungkus bayi dengan kain halus dan kering, tutup dengan selimut dan pastikan bayi terlindung dengan baik untuk menghindari hilangnya panas tubuh.

b. Kala III
Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat, beberapa menit kemudian uterus kembali berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya, biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Penegluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.

Manajemen aktif kaka III
 Pemberian oksitosin dengan segera.
 Pengendalian tarikan tali pusat.
 Pemijatan uterus segera setelah melahirkan.

c. Kala IV
Kala ini merupakan kala pengawasan, yaitu untuk mengetahui ada perdarahan atau tidak.

Penanganan :
 Periksa fundus uteri setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat, masase uterus sampai menjadi keras, apabila uterus berkontraksi otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan, hal ini dapat mengurangi kehilangan darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
 Periksa TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan 30 meit pada jam ke dua.
 Anjurkan ibu untuk minum untuk mencegah dehidrasi.
 Biarkan ibu beristirahat.
 Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan bayi dan ibu.
 Motifasi ibu untuk segera menyusui jika bayi telah siap.
 Ingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan dirinya dan mencegah terjadinya infeksi.

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Kehamilan
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Ante Natal Care

Ante Natal Care
1. PENGERTIAN
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim

2. TUJUAN :
Pengawasan : Kesh. Ibu, Deteksi dini penyakit penyerta & komplikasi kehamilan, menetapkan resiko kehamilan (tinggi, meragukan dan rendah)
Menyiapkan persalinan à well born baby dan well health mother
Mempersiapkan pemeliharaan bayi & laktasi
Mengantarkan pulihnya kesh. Ibu optimal

3. BUKTI KEHAMILAN
a. PRESUMTIF ( Bukti Subjektif)
Amenorea
Perubahan payudara
Mual & muntah (morning sickness)
Frekuensi berkemih
Leukorea
Tanda Chadwiek’s
Quickening
b. PROBABILITAS ( Bukti Objektif)
Pertumbuhan & perubahan uterus
Tanda Hegar’s ( melunaknya segmen bawah uterus)
Ballotement (lentingan janin dl uterus saat palpasi)
Braxton hick’s (kontraksi selama kehamilan)
Perubahan Abdomen
Pembesaran abdomen
Striae Gravidarum
Pigmentasi pada linea nigra
c. ABSOLUT ( Bukti Positif)
► Terdengar DJJ
► Teraba bagian anak oleh pemeriksa
► Terlihat hasil konsepsi dg USG
► Teraba gerakan janin oleh pemeriksa

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• LABORATORIUM
– Darah ( Hb, Gol darah, Glukosa, VDRL)
– Urine (Tes kehamilan, protein, glukosa, analisis)
– Pemeriksaan Swab (Lendir vagina & servik)
• U S G
– Jenis kelamin
– Taksiran kelahiran, TBJ, Jumlah cairan amnion,

5. PEMERIKSAAN KEHAMILAN
BILA HPHT TIDAK DIKETAHUI,
USIA KEHAMILAN TENTUKAN DG CARA :
- TFU ( Cm x 7/8 = Usia dl mgg)
- Terabanya ballotement di simpisis à 12 mgg
- DJJ (+) dg Dopller à 10-12 mgg
- DJJ (+) dg fetoscop à 20 mgg
- Quickening à 20 mgg
- USG
PERHITUNGAN TAKSIRAN PARTUS
( NAGELE) :
H + 7
B (1-3) + 9, bila tanggal > 24 + B 1
B (4-12) – 3
T (1-3) + 0
T (4-12) + 1
PERHITUNGAN TAKSIRAN BERAT JANIN
 TFU – (11 belum masuk PAP) X 155 = ….gr
 TFU – (13 sudah masuk PAP) X 155 = ….gr
FREKUENSI KEHAMILAN
 Kunjungan I (12-24 mgg)
– Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE
 Kunjungan II ( 28 – 32 mgg )
– Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I
 Kunjungan III ( 34 mgg)
– Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II
 Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 mgg)
– Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan
6. PENGKAJIAN ANC
1. AKTIFITAS / ISTIRAHAT
BP ↓ , HR ↑ , Episode Sinkop, Edema
2. INTEGRITAS EGO à Persepsi diri
3. ELIMINASI
Konstipasi, miksi ↑ , BJ urine ↑ , haemoroid
4. MAKANAN & CAIRAN
morning sickness (TM I), nyeri ulu hati,
Penambahan BB ( 8 – 12 kg), hipertrofi gusi (berdarah)
Anemi fisiologis (Hemodilusi)
5. NYERI / KETIDAK NYAMANAN
Kram kaki, nyeri payudara & punggung, Braxton Hicks
6. PERNAFASAN
RR ↑ ,
7. KEAMANAN
Suhu : 36,1o – 37,6 o C ,
DJJ ( 12 mgg dg dopler, 20 mgg dg fetoskop)
Gerakan janin ( 20 mgg)
Quickening & Ballotement
( 16 – 20 mgg) &
8. SEKSUALITAS
Perubahan seksualitas, leukorea, peingkatan uetrus
Payudara ↑ , pigmentasi
Goodell, Hegar, chadwiks
9. INTERAKSI SSIAL
Denial, maturasi, aseptent
10. PENYULUHAN / PEMBELAJARAN
11. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
7. PENGKAJIAN FISIK
• TANDA VITAL, ANTOPOMETRI
• PENGKAJIAN KEPALA
• PENGKAJIAN DADA : paru, jantung, payudara
• PENGKAJIAN ABDOMEN : hepar, abdomen, uterus (palpasi, inspeksi, auskultasi, pergerakan janin, his)
• PEMERIKSAAN PANGGUL
• PEMERIKSAAN GENITAL
• PEMERIKSAAN EKSTREMITAS
8. DIAGNOSA KEPERAWATAN & FOKUS INTERVENSI
1. Resti perubahan nutrisi krg dr kebt tubuh b.d. Perubahan napsu makan, mual & muntah
 KH :
 Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal
 Mengikuti diet yg dianjurkan
 Mengkonsumsi Zat besi/ vitamin
 Menunjukkan ↑ BB ( min 1,5 kg pd TM I )
 Intervensi :
 Tentukan asupan nutrisi /24 jam
 Kaji ttg pengetahuan kebutuhan diet
 Berikan nformasi tertulis diet prenatal & suplemen
 Tanyakan keyakinan diet ss budaya
 Timbang BB & kaji BB pregravid
 Berikan ↑ BB selama TM I yang optimal
 Tinjau tentang mual & muntah
 Pantau kadar Hb, test urine (aseton, albumin & glukosa)
 Ukur pembesaran uterus
 Kolaborasi : program diet ibu hamil
2. Resti defisit vol. Cairan b.d.
perubahan napsu makan, mual & muntah
• KH :
– Mengidentifikasi & melakukan kegiatan u ↓ frekwensi & keparahan mual/muntah
– Mengkonsumsi cairan ss kebt.
– Mengidentifikasi tanda & gejala dehidrasi
• Intervensi :
– Auskultasi DJJ
– Tentukan beratnya mual/muntah
– Tinjau riwayat (gastritis, kolesistiasis)
– Anjurkan mempertahankan asupan cairan
– Kaji suhu, turgor kulit, membran mukosa, TD, intake & output, Timbang BB
– Anjurkan asupan minum manis, makan sedikit tapi sering, makan roti kering sebelum bangun tidur
3. Perubahan eliminasi urine b.d. Pembesaran uterus, ↑ GFR, ↑ sensitifitas VU
► KH :
 Mengungkapkan penyebab sering kencing
 Mengidentifikasi cara mencegah stasis urinarius
► Intervensi :
 Berikan informasi perubahan berkemih
 Anjurkan menghindari posisi tegak & supine dl waktu lama
 Berikan informasi intake cairan 6-8 gls/hr, penurunan intake 2-3 j pra rest
 Kaji nokturia, anjurkan keagel exercise
 Tekankan higiene toileting, memakai celana dr katun & menjaga vulva tetap kering

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Ante Natal Care
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Tipe Diagnosa Keperawatan

TIPE DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Aktual
Menggambarkan peniliaian klinis karena masalah sudah timbul.
Label yang digunakan :
Gangguan, Perubahan, Kerusakan, Tidak efektif, Kekurangan, Kelebihan, Penurunan, Disfungsi, Peningkatan, Distress, Ketidakseimbangan dan lain-lain

2. Risiko
Menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lebih rentan untuk mengalami masalah dibandingkan dengan orang lain dalam situasi yang sama atau serupa.
Label yang digunakan : Risiko, Risiko tinggi, Risiko terhadap
3. Kemungkinan
Adalah pernyataan tentang masalah-masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan.
Label yang digunakan :
Kemungkinan

4. Sejahtera/sehat
Adalah diagnosa keperawatan yang menggambarkan penilaian klinis tentang individu, keluarga atau komunitas dalam transisi dari tingkat kesejahteraan tertentu ke tingkat kesejahteraan/kesehatan yang lebih tinggi/optimal.
Label yang digunakan : Potensial

5. Sindrom
Adalah diagnosa keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan ada karena situasi/peristiwa tertentu.
Label yang digunakan :
Sindrom

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Tipe Diagnosa Keperawatan
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Penanganan Nyeri

PENANGANAN NYERI

DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut
Yaitu : suatu keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang. (Carpenito, 1998: 55)
Batasan Karakteristik :
Subjektif : Komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri dideskripsikan
Objektif :
• Perilaku sangat berhati-hati
• Memusatkan diri
• Fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu, menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses fikir)
• Perilaku distraksi (mengerang, menangis dll)
• Raut wajah kesakitan (wajah kuyu, meringis)
• Perubahan tonus otot
• Respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi pernafasan).
b. Nyeri Kronis
Yaitu : keadaan dimana seseorang individu mengalami nyeri yang menetap atau intermiten dan berlangsung lebih dari enam bulan.
Batasan Karakteristik :
Mayor (Harus Terdapat)
• Individu melaporkan bahwa nyeri telah ada lebih dari 6 bulan
Minor (Mungkin Terdapat)
• Ketidaknyamanan
• Marah, frustasi, depresi karena situasi
• Raut wajah kesakitan
• Anoreksia, penurunan berat badan
• Insomnia
• Gerakan yang sangat berhati-hati
• Spasme otot
• Kemerahan, bengkak, panas
• Perubahan warna pada area terganggu
• Abnormalitas refleks.
Diagnosa Keperawatan Tambahan
• Kecemasan yang berhubungan dengan hilangnya kontrol
• Ketakutan yang berhubungan dengan nyeri
• Kelemahan yang berhubungan dengan pengobatan pada penyakit
• Perubahan Penampilan Peran yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan kerusakan koping
• Perubahan Pola Sexualitas yang berhubungan dengan kesakitan dan nyeri
• Kerusakan Mobilitas Fisik yang berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan
• Aktifitas Intoleran yang berhubungan dengan nyeri dan/atau depresi
• Gangguan Pola Tidur yang berhubungan dengan nyeri
• Kurang Perawatan Diri (total atau sebagian) yang berhubungan dengan nyeri
• Perubahan Pemeliharaan Kesehatan yang berhubungan dengan persaan tak berdaya.
RENCANA TINDAKAN
Tujuan dari rencana tindakan untuk mengatasi nyeri antara lain :
1. Meningkatkan perasaan nyaman dan aman individu
2. Meningkatkan kemampuan individu untuk dapat melakukan aktifitas fisik yang diperlukan untuk penyembuhan (misal; batuk dan nafas dalam, ambulasi)
3. Mencegah timbulnya gangguan tidur
Intervensi
Secara umum intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu :
1. Non Farmakologik intervention : Distraksi, Relaksasi, Stimulasi Kutaneus
2. Farmakologi Intervention
Distraksi
Beberapa teknik distraksi, antara lain :
1. Nafas lambat, berirama
2. Massage and Slow, Rhythmic Breathing
3. Rhytmic Singing and Tapping
4. Active Listening
5. Guide Imagery
Relaksasi
Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan beberapa keuntungan, antara lain :
1. Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan dengan nyeri atau stres
2. Menurunkan nyeri otot
3. Menolong individu untuk melupakan nyeri
4. Meningkatkan periode istirahat dan tidur
5. Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain
6. Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat nyeri
Stewart (1976: 959), menganjurkan beberapa teknik relaksasi berikut :
1. Klien menarik nafas dalam dan menahannya di dalam paru
2. Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh menjadi kendor dan rasakan betapa nyaman hal tersebut
3. Klien bernafas dengan irama normal dalam beberapa waktu
4. Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara perlahan-lahan, pada saat ini biarkan telapak kaki relaks. Perawat minta kepada klien untuk mengkonsentrasikan fikiran pada kakinya yang terasa ringan dan hangat.
5. Ulangi langkah 4 dan konsentrasikan fikiran pada lengan, perut, punggung dan kelompok otot-otot lain
6. Setelah klien merasa relaks, klien dianjurkan bernafas secara perlahan. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara dangkal dan cepat.
Stimulasi Kulit (Cutaneus)
Beberapa teknik untuk stimulasi kulit antara lain :
a. Kompres dingin
b. Analgesics ointments
c. Counteriritan, seperti plester hangat.
d. Contralateral Stimulation, yaitu massage kulit pada area yang berlawanan dengan area yang nyeri.
Farmakologik Agent
1. Analgesics
Obat golongan analgesik akan merubah persepsi dan interpretasi nyeri dengan jalan mendepresi Sistem Saraf Pusat pada Thalamus dan Korteks Cerebri. Analgesik akan lebih efektif diberikan sebelum klien merasakan nyeri yang berat dibandingkan setelah mengeluh nyeri. Untuk alasan ini maka analgesik dianjurkan untuk diberikan secara teratur dengan interval, seperti setiap 4 jam (q 4h) setelah pembedahan.
Terdapat dua klasifikasi mayor dari analgesik, yaitu :
a. Narcotic (Strong analgesics)
Termasuk didalamnya adalah : derivat opiate seperti morphine dan codein.
Narkotik menghilangkan nyeri dengan merubah aspek emosional dari pengalaman nyeri (misal : persepsi nyeri). Perubahan mood dan perilaku dan perasaan sehat membuat seseorang merasa lebih nyaman meskipun nyerinya masih timbul.
b. Nonnarcotics (Mild analgesics)
Mencakup derivat dari : Asam Salisilat (aspirin); Para-aminophenols (phenacetin); Pyrazolon (Phenylbutazone).
Meskipun begitu terdapat pula obat analgesik kombinasi, seperti kombinasi dari analgesik kuat (strong analgesics) dengan analgesik ringan (mild analgesics), contohnya : Tylenol #3, merupakan kombinasi dari acetaminophen sebagai obat analgesik nonnarkotik dengan codein, 30mg.
2. Plasebo
Plasebo merupakan jenis dari tindakan, seperti pada intervensi keperawatan yang menghasilkan efek pada klien dikarenakan adanya suatu kepercayaan daripada kandungan fisik atau kimianya (McCaffery, 1982:22). Pengobatannya tidak mengandung komponen obat analgesik (seperti : gula, larutan garam/normal saline, atau air) tetapi hal ini dapat menurunkan nyeri. Untuk memberikan plasebo ini perawat harus mempunyai izin dari dokter.
Medical Interventions
1. Blok Saraf (Nerve Block)
2. Electric Stimulation
3. Acupunture
4. Hypnosis
5. Surgery/Pembedahan
6. Biofeedback

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Penanganan Nyeri
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


BRONCHO PNEUMONIA

BRONCHO PNEUMONIA

PENGERTIAN
Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam, sperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing.

KLASIFIKASI
Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitial (bronchitis).
Berdasarkan etiologinya, dibagi atas;
Bakteri
Pneumokok, merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh pneumokok serotipe 1 samapi dengan 8. Sedangkan pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9. Inseiden meningkat pada usia lebih kecil 4 tahun dan menurun dengan meningkatnya umur.
Steptokokus, sering merupakan komplikasi dari penyakit virus lain, seperti morbili dan varisela atau komplikasi penyakit kuman lainnya seperti pertusis, pneumonia oleh pnemokokus.
Basil gram negatif seperti Hemiphilus influensa, Pneumokokus aureginosa, Tubberculosa.
Streptokokus, lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progresif, resisten terhadap pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi seperti; abses paru, empiema, tension pneumotoraks.

Virus
Virus respiratory syncytial, virus influensa, virus adeno, virus sistomegalik.

Aspirasi
Pneumonia hipostatik
Penyakit ini disebabkan tidur terlentang terlalu lama.
Jamur
Sindroma Loeffler.

GEJALA KLINIK
Bronchopneumoni biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik mendadak sampai 30 - 40 ° C.dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, sesak dan sianosis sekunder hidung dan mulut, pernapasan cuping hidung merupakan trias gejala patognomik. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk mula-mula kering kemudian jadi produktif.

PEMERIKSAAN FISIK
Pada stadium awal sukar dibuat diagnosa dengan pemeriksaan fisik. Tapi dengan adanya napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi suara napas vesikuler dan lemah. Terdapat ronchi basah halus dan nyaring. Jika sering bronchopneumonia menjadi satu (confluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara napas mengeras.



PEMERIKSAAN PENUNJANG
Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m3 dengan pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat menentukan / mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto rontgen dilakukan untuk melihat :
Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
Luas daerah paru yang terkena.
Evaluasi pengobatan
Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau beberapa lobur.

PENGOBATAN
Bila dispnea berat berikan Oksigen
IVFD ; cairan DG 10 % atau caiara 24 Kcl, Glukosa 10 % tetesan dibagi rata dalam 24 jam.
Pengobatan: Penicilin Prokain 50.000 unit / kg BB / hari dan Kloramfenikol 75 mg / kg BB/ hari dibagi dalam 4 dosis.

PROGNOSIS
Dengan menggunakan antibiotika yang tepat dan cukup, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1 %.

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - BRONCHO PNEUMONIA
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5

26 Desember 2010


Metode Suhu Basal Tubuh (Basal Body Temperature Method)

Metode Suhu Basal Tubuh (Basal Body Temperature Method)

Suhu tubuh basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas lainnya.


Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit.


Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36 derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi.


Kondisi kenaikan suhu tubuh ini akan terjadi sekitar 3-4 hari, kemudian akan turun kembali sekitar 2 derajat dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesteron menurun.



Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu tubuh, kemungkinan tidak terjadi masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu tubuh. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang memproduksi progesteron. Begitu sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan terus berlangsung setelah masa subur/ovulasi kemungkinan terjadi kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil dibuahi, maka korpus luteum akan terus memproduksi hormon progesteron. Akibatnya suhu tubuh tetap tinggi.



Manfaat

Metode suhu basal tubuh dapat bermanfaat sebagai konsepsi maupun kontrasepsi.


Manfaat konsepsi

Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan kehamilan.


Manfaat kontrasepsi

Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan menghindari atau mencegah kehamilan.


Efektifitas

Metode suhu basal tubuh akan efektif bila dilakukan dengan benar dan konsisten. Suhu tubuh basal dipantau dan dicatat selama beberapa bulan berturut-turut dan dianggap akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi. Tingkat keefektian metode suhu tubuh basal sekitar 80 persen atau 20-30 kehamilan per 100 wanita per tahun. Secara teoritis angka kegagalannya adalah 15 kehamilan per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh akan jauh lebih efektif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain seperti kondom, spermisida ataupun metode kalender atau pantang berkala (calender method or periodic abstinence).


Faktor yang Mempengaruhi Keandalan Metode Suhu Basal Tubuh

Adapun faktor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh antara lain:



  1. Penyakit.

  2. Gangguan tidur.

  3. Merokok dan atau minum alkohol.

  4. Penggunaan obat-obatan ataupun narkoba.

  5. Stres.

  6. Penggunaan selimut elektrik.


Keuntungan

Keuntungan dari penggunaan metode suhu basal tubuh antara lain:



  1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri tentang masa subur/ovulasi.

  2. Membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur mendeteksi masa subur/ovulasi.

  3. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan kesempatan untuk hamil.

  4. Membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat mengalami masa subur/ovulasi seperti perubahan lendir serviks.

  5. Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu sendiri.


Keterbatasan

Sebagai metode KBA, suhu basal tubuh memiliki keterbatasan sebagai berikut:



  1. Membutuhkan motivasi dari pasangan suami istri.

  2. Memerlukan konseling dan KIE dari tenaga medis.

  3. Suhu tubuh basal dapat dipengaruhi oleh penyakit, gangguan tidur, merokok, alkohol, stres, penggunaan narkoba maupun selimut elektrik.

  4. Pengukuran suhu tubuh harus dilakukan pada waktu yang sama.

  5. Tidak mendeteksi awal masa subur.

  6. Membutuhkan masa pantang yang lama.


Petunjuk Bagi Pengguna Metode Suhu Basal Tubuh

Aturan perubahan suhu/temperatur adalah sebagai berikut:



  1. Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum bangun dari tempat tidur).

  2. Catat suhu ibu pada kartu yang telah tersedia.

  3. Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal dan rendah” dalam pola tertentu tanpa kondisi-kondisi di luar normal atau biasanya.

  4. Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.

  5. Tarik garis pada 0,05 derajat celcius – 0,1 derajat celcius di atas suhu tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung (cover line) atau garis suhu.

  6. Periode tak subur mulai pada sore hari setelah hari ketiga berturut-turut suhu tubuh berada di atas garis pelindung/suhu basal.

  7. Hari pantang senggama dilakukan sejak hari pertama haid hingga sore ketiga kenaikan secara berurutan suhu basal tubuh (setelah masuk periode masa tak subur).

  8. Masa pantang untuk senggama pada metode suhu basal tubuh labih panjang dari metode ovulasi billings.

  9. Perhatikan kondisi lendir subur dan tak subur yang dapat diamati.


Catatan:



  1. Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung (cover line) selama perhitungan 3 hari. Kemungkinan tanda ovulasi belum terjadi. Untuk menghindari kehamilan tunggu sampai 3 hari berturut-turut suhu tercatat di atas garis pelindung sebelum memulai senggama.

  2. Bila periode tak subur telah terlewati maka boleh tidak meneruskan pengukuran suhu tubuh dan melakukan senggama hingga akhir siklus haid dan kemudian kembali mencatat grafik suhu basal siklus berikutnya.


Contoh. Pencatatan pengukuran suhu basal tubuh



Referensi

birth-control-comparison.info/fam.htm diunduh 25 Maret 2010, 12:09 AM.

birthcontrolsolutions.com/types/natural/basal-body-temperature.htm diunduh 25 Maret 2010, 12:15 AM.

contracept.org/nfpchart.php diunduh 25 Maret 2010, 12:10 AM.

Endriana, 2009. KB Suhu Basal. //endriana25021989.wordpress.com/2009/05/04/kb-suhgu-basal/ diunduh 25 Maret 2010, 09:26 PM.

en.wikipedia.org/wiki/Basal_body_temperature diunduh 25 Maret 2010, 12:06 AM.

epigee.org/guide/symptothermal.html diunduh 25 Maret 2010, 12:04 AM.

Erlina, 2009. Bagaimana Menghitung dan Menentukan Masa Subur. dokternasir.web.id/2009/03/bagaimana-menghitung-dan-menentukan-masa-subur.html diunduh 26 Maret 2010, 02:42 PM.

Nasir, 2009. Suhu Basal Tubuh Untuk Mengetahui Masa Subur Wanita. dokternasir.web.id/2009/03/suhu-basal-tubuh-untuk-mengetahui.html diunduh 26 Maret 2010, 02:43 PM.

Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 13- MK 14).

scribd.com/doc/26873688/23546177-Sap-Kontrasepsi diunduh 26 Maret 2010, 12:39 AM.


http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Metode Suhu Basal Tubuh (Basal Body Temperature Method)
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Konsep Perilaku


Konsep Perilaku

Perilaku adalah tindakan/aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya.

Perilaku dapat terjadi sebagai akibat stimulus dari luar. Reseptor diperlukan untuk mendeteksi stimulus, saraf diperlukan untuk mengkoordinasikan respon dan efektor untuk melaksanakan aksi.

Perilaku dapat pula terjadi sebagai stimulus dari dalam. Stimulus dari dalam, misalnya rasa lapar, memberikan motivasi akan aksi yang akan diambil bila makanan benar-benar terlihat atau tercium.

Umumnya perilaku suatu organisme merupakan akibat gabungan stimulus dari dalam dan dari luar.

Bentuk Perilaku:

  • Perilaku bawaan, dan
  • Perilaku terajar.

Perilaku bawaan

Taksis: Bereaksi terhadap stimulus dengan bergerak secara otomatis langsung mendekati atau menjauh dari atau pada sudut tertentu terhadapnya. Macam-macam taksis: kemotaksis, fototaksis, magnetotaksis.

Refleks: Respon bawaan paling sederhana yang dijumpai pada hewan yang mempunyai system saraf. Refleks adalah respon otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu stimulus. Respon terbawa sejak lahir, artinya sifatnya ditentukan oleh pola reseptor, saraf, dan efektor yang diwariskan.

Contoh: refleks rentangan

Mesin refleks rentang memberikan mekanisme pengendalian yang teratur dengan baik, yang:

  1. mengarahkan kontraksi refleks otot
  2. menghambat kontraksi otot-otot antagonis
  3. terus-menerus memonitor keberhasilan yang dengannya perintah-perintah dari otak diteruskan, dan dengan cepat dan secara otomatis membuat setiap penyesuaian sebagai pengganti yang perlu.

Naluri: Pola perilaku kompleks yang, sebagaimana refleks, merupakan bawaan, agak tidak fleksibel, dan mempunyai nilai bagi hewan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Naluri lebih rumit dibandingkan dengan refleks dan dapat melibatkan serangkai aksi.

Pelepas Perilaku Naluriah: sekali tubuh siap di bagian dalam untuk tipe perilaku naluriah tertentu, maka diperlukan stimulus luar untuk mengawali respon. Isyarat yang memicu aksi naluriah disebut pelepas (release). Begitu respon tertentu dilepaskan, biasanya langsung selesai walaupun stimulus efektif segera ditiadakan.

Isyarat kimia, yaitu feromon, berfungsi sebagai pelepas penting pada serangga sosial.

Perilaku Ritme dan Jam Biologis: perilaku berulang-ulang pada interval tertentu yang dinyatakan sebagai ritme atau periode. Daur perilaku ritme dapat selama dua jam atau setahun.

Perilaku Terajar

Perilaku terajar adalah perilaku yang lebih kurang diperoleh atau dimodifikasi secara permanen sebagai akibat pengalaman individu.

Kebiasaan: hampir semua hewan mampu belajar untuk tidak bereaksi terhadap stimulus berulang yang telah dibuktikan tidak merugikan. Fenomena ini dikenal sebagai kebiasaan (habituasi) dan merupakan suatu contoh belajar sejati.

Keterpatrian/Tanggap Tiru Imprinting: Merupakan salah satu contoh belajar yang khusus dan nyata. Contoh: jika seekor anak angsa yang baru menetas dihadapkan pada sebuah benda yang dapat bergerak dan mengeluarkan bunyi yang dapat terdengar, hewan itu akan mengikutinya sebagaimana mereka mengikuti induknya, Waktu penghadapan cukup kritis, karena jika dilakukan beberapa hari setelah menetas, keterpatrian tidak terjadi. Keterpatrian ini dikenal berkat penelitian Konrad Lorenz.

Respon yang Diperlazimkan: merupakan perilaku terajar yang paling sederhana, yang pada dasarnya adalah respon sebagai hasil pengalaman, disebabkan oleh suatu stimulus yang berbeda dengan yang semula memicunya. Ivan Pavlov, fisiologiawan Rusia, dalam penelitiannya dengan anjing menemukan bahwa jika anjing diberi makanan pada mulutnya, ia akan mengeluarkan air liur yang mungkin merupakan refleks bawaan yang melibatkan kuncup rasa, neuron sensori, jaring-jaring neuron di otak, dan neuron motor yang menuju kelenjar ludah. Pavlov kemudian menemukan jika pada saat meletakkan makanan di mulut anjing ia membunyikan bel, anjing selanjutnya akan berliur setiap kali anjing tersebut mendengar bel. Hal ini merupakan respon yang diperlazimkan. Anjing telah belajar bereaksi terhadap stimulus pengganti, yaitu stimulus yang diperlazimkan.

Percobaan mengenai pelaziman telah banyak memberi keterangan tentang proses belajar pada manusia. Pelaziman terjadi paling cepat bila (1) stimulus yang bukan diperlazimkan dan stimulus yang diperlazimkan sering diberikan bersama-sama, (2) tidak ada pengalihan perhatian, dan (3) diberikan semacam hadiah/imbalan untuk penampilan/prestasi yang berhasil terhadap respon bersyarat tadi.

Pelaziman Instrumental: Prinsip pelaziman dapat dipakai untuk melatih hewan melakukan tugas yang bukan pembawaan lahir. Dalam hal ini, hewan ditempatkan pada suatu keadaan sehingga dapat bergerak bebas dan melakukan sejumlah kegiatan perilaku yang berlain-lainan. Peneliti dapat memilih untuk memberi imbalan hanya pada perilaku tertentu. Latihan ini dikenal sebagai pelaziman instrumental atau pelaziman operan (istilah kedua diberikan oleh psikolog B.F. Skinner yang terkenal karena dapat melatih merpati untuk bermain pingpong dan bermain piano mainan).

Motivasi: Diantara kebanyakan hewan, motivasi (terkadang disebut juga dorongan) dihubungkan dengan kebutuhan fisiknya. Seekor hewan yang haus akan mencari air dan yang merasa lapar akan mencari makanan. Kepuasan terhadap dorongan merupakan kekuatan motivasi dibalik perilaku hewan tersebut. Sebagian besar perilaku spontan hewan-hewan ini merupakan akibat usaha memelihara homeostasis. Banyak diantara dorongan ini bersumber dalam hipotalamus. Dalam semua kasus, hipotalamus mengawali respon yang berakibat penurunan dorongan tersebut, dan dapat pula menghambat beberapa di antara respon tadi bila titik kepuasan tercapai.

Pada manusia, sebagian besar perilaku terhadap keinginan memuaskan kebutuhan fisik, tidak selalu dapat diterangkan seperti keterangan di atas. Banyak kegiatan yang dilakukan kendatipun tidak ada imbalan atau hukuman luar yang didapatkan. Melakukan proses (kegiatan) itu sendiri sudah merupakan imbalan. Simpanse dan manusia juga kadang mau bekerja untuk tujuan yang belum tampak.

Konsep: Kebanyakan hewan memecahkan masalah dengan mencoba-coba. Selama ada motivasi yang memadai hewan akan mencoba setiap alternatif dan secara bertahap, melalui kegagalan dan keberhasilan yang berulang, belajar memecahkan masalahnya. Manusia umumnya tidak sekedar belajar dengan cara mencoba-coba. Bila dihadapkan pada suatu masalah, manusia mungkin melakukan satu atau dua usaha sembarang sebelum “berhasil” memecahkannya. Respon ini disebut wawasan.

Wawasan mencakup menanamkan hal-hal yang telah dikenal dengan cara-cara baru. Jadi merupakan tindakan kreatif sejati. Wawasan juga bergantung pada perkembangan konsep atau prinsip.

Pemecahan masalah dengan menggunakan konsep melibatkan suatu bentuk penalaran. Ada dua proses pemikiran berlainan namun berkaitan yang terlibat, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif berarti mempelajari prinsip umum dari pengalaman dengan situasi khusus dan jelas. Penalaran deduktif, menerapkan prinsip umum pada situasi khusus yang baru.

Bahasa: Semua manusia, bahkan dalam masyarakat yang paling primitif pun, memiliki bahasa yang sangat maju. Hal ini merupakan abstraksi yang kedua (konsep merupakan abstraksi juga).

Memori: Belajar bergantung kepada memori (ingatan). Jika organisme bermaksud memodifikasi perilakunya dari pengalaman, maka ia harus mampu mengingat-ingat apa pengalamannya itu. Sekali sesuatu dipelajari, maka memori diperlukan agar yang dipelajarinya itu tetap ada.

Ada dua teori dasar tentang memori. Yang pertama menyatakan bahwa memori merupakan proses dinamik. Menurut teori ini, sensasi menimbulkan impuls saraf, yang kemudian beredar untuk jangka waktu tak terbatas melalui jaring-jaring neuron dalam sistem saraf pusat. Hal ini memungkinkan karena jaring-jaring interneuron yang amat luas dalam serebrum manusia. Teori dinamik ini ditunjang oleh fakta yang menakjubkan bahwa belum pernah ditemukan daerah khusus dalam otak manusia untuk penyimpanan memori yang lama. Teori yang kedua mengatakan bahwa setiap sensasi yang diingat kembali mengakibatkan sedikit perubahan fisik yang permanen di dalam otak. Beberapa biologiwan mengemukakan bahwa memori mungkin disimpan dalam kode kimiawi di dalam otak. Beberapa memperhatikan RNA, beberapa memperhatikan protein, sebagai substansi yang menyandikan memori. Masih terlalu dini untuk menyatakan apa sifat memori itu. Bisa jadi proses dinamik maupun perubahan fisika-kimia terlibat didalamnya.

Perolehan memori terjadi paling sedikit dalam dua langkah yang berbeda. Pada manusia, kerusakan pada lobus temporal dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan mengingat pengetahuan baru selama kira-kira satu jam lebih. Kerusakan seperti itu tidak berpengaruh pada memori yang diperoleh dalam tahun-tahun sebelum kerusakan terjadi. Penderita sakit jiwa yang menjalani pengobatan kejutan listrik tidak mengingat-ingat kejadian yang berlangsung sejenak sebelum perlakuan tersebut, tetapi memori tentang peristiwa sebelumnya tidak terhalang.

Arti Penting Perilaku Adaptif: Berbagai macam perilaku bergantung pada mesin perilaku: reseptor indera, sirkit dalam sistem saraf, dan organisasi otot.

Hewan dihadapkan pada empat bentuk perintah yang menopang hidupnya, yaitu: (1) makan, (2) mencegah jangan sampai dimakan, (3) mampu bertahan hidup dalam kondisi fisik lingkungannya, dan (4) meneruskan gen-gennya kepada generasi berikutnya.

1) Perilaku Makan: Hewan beragam dalam keluasan cita rasanya. Dari yang sangat khusus hingga ke pemakan umum yang dapat memilih di antara sekumpulan spesies yang dapat dimakan. Tujuan makanan ialah energi, tetapi energi diperlukan untuk mencari makanan. Jadi hewan berperilaku sedemikian rupa untuk memaksimumkan perbandingan kerugian/keuntungan dari pencarian makanan itu. Kerugian energi dari mencari makanan diusahakan seminimum mungkin melalui perkembangan “citra mencari” untuk macam makanan yang, untuk sementara, menghasilkan keuntungan yang besar. Untuk beberapa species, citra mencari itu mungkin bukan perwujudan makannya saja, melainkan tempatnya yang khusus. Banyak pula hewan yang menggunakan energinya untuk membangun perangkap, daya tarik dan sejenisnya untuk menarik mangsanya agar berada dalam jangkauannya. Sebagian besar kehidupan hewan sosial berkisar pada makan bersama.

2) Perilaku Mempertahankan diri: Perilaku berkisar dari melarikan diri dari pemangsa potensial sampai dengan menggunakan senjata bertahan dan penggunaan kamuflase dan mimikri (meniru).

3) Bertahan Hidup dalam Lingkungan Fisik: Kebanyakan hewan hanya dapat bertahan hidup dalam kisaran suhu, salinitas, kelembaban tertentu, dan sebagainya. Kisaran ini relatif luas bagi hewan, seperti mamalia dan burung, yang banyak mempunyai mekanisme yang efisien untuk mempertahankan kendali homeostatis terhadap lingkungannya.

4) Perilaku Reproduktif:


http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Konsep Perilaku
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Perawat Kecil (PerCil)


PROGRAM PERAWAT KECIL di SEKOLAH DASAR

Dalam Undang-undang No.23 th.1992 tentang kesehatan, pasal 17 dinyatakan bahwa kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak dan kesehatan anak diolakukan melalui peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, masa balita, usia prasekolah. Selanjutnya dalam pasal 45 dinyatakan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Disamping itu kegiatan sekolah juga diarahkan untuk mmupuk kebiasaan hidup sehat agar memiliki pengetahuan, sikap dan ketermpilan untuk melaksanakan prinsif hidup sehat erta aktif berpartisipasi dalam usaha peningkatan kesehatan baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat.

Untuk mencapai maksud di atas, maka perlu adanya pelatihan Perawat kecil dan konteks Usaha Kesehatan Sekolah dimana Perawat Kecil yang dimaksud adalah peserta didik yang dipilih oleh guru, guna ikut melaksanakan sebagian usaha pelayanan kesehatan terhadap diri sendiri, keluarga, teman peserta didik pada khususnya dan sekolah pada umumnya.

Pengertian

Perawat kecil adalah siswa yang memiliki kriteria dan telah dilatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri, teman, keluarga dan lingkungan.

  1. Tujuan

1. Tujuan umum:

Meningkatan partisipasi siswa dalam program UKS

2. Tujuan khusus:

- Agar siswa dapat menjadi penggerak hidup sehat di sekolah, rumah dan lingkungan

- Agar siswa dapat menolong dirinya sendiri, antar siswa dan orang lain untuk hidup sehat.

Kriteria

- Siswa kelas 4 dan 5 yang belum pernah mendapat pelatihan perawat kecil

- Berprestasi di sekolah

- Berbadan sehat

- Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab

- Berpenampilan bersih dan berperilaku sehat

- Berbudi pekerti baik dan suka menolong

- Mendapat izin dari orang tua.

Tugas dan kewajiban perawat kecil

  • Selalu bersikap dan berperilaku sehat
  • Dapat menggerakkan usaha kesehatan terhadap diri masing-masing
  • Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah
  • Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di sekolah
  • Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan antara lain: pekan kebersihan, pekan gizi, pekan penimbangan BB di sekolah, pekan kesehatan gigi, pekan kesehatan mata dan lain-lain.
  • Menggerakkan dan membimbing teman agar saling melaksanakan:

kegiatan perawat kecil

- Pengamatan kebersihan dan kesehatan pribadi

- Pengukuran TB dan BB

- Penyuluhan kesehatan

  1. Membantu petugas kesehatan dalam pelayanan kesehatan di sekolah antara lain:

- Distribusi obat cacing dan vitamin

- Membantu dalam pelaksanaan program imunisasi

- Pertolongan pertama pada kecelakaan

- Pertolongan pertama pada penyakit.

  1. Pengenalan dini dan tanda-tanda penyakit
  • Pengamatan kebersihan UKS, warung UKS, dan lingkungan sekolah
  • Pengamatan sanitasi di sekolah, seperti halaman sekolah, ruang kelas, perlengkapan, WC, tempat air bersih, kamar mandi, tempat sampah dan saluran pembuangan termasuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk)
  • Pencatatan dan pelaporan antara lain buku harian perawat kecil
  • Melaporkan hal-hal khusus yang ditemui pada guru UKS/kepala sekolah/guru yang ditunjuk

Hasil yang diharapkan

1. Perawat kecil

- Meningkatnya pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup sehat

- Memiliki keterampilan dalam upaya pelayanan kesehatan sederhana

- Dapat bertindak sebagai teladan, penggerak dan pendorong hidup sehat

- Mempunyai kesetiakawanan sosial

  1. 2. Siswa lainnya

Ikut begerak dan terbiasa hidup sehat

  1. 3. Guru

Meningkatnya kerja sama antar guru dengan orang tua siswa dan petugas kesehatan dalam perilaku kehidupan lingkungan sekolah sehat.

  1. 4. Orang tua siswa

Meningkatnya kesadaran orang tua untuk berperilaku hidup sehat bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungannya

  1. 5. Masyarakat dan lingkungannya

- Masyarakat akan tergerak untuk hidup sehat

Kualitas lingkungan hidup sehat dan meningkat.


http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Perawat Kecil (PerCil)
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


KONSEP PUSKESMAS

KONSEP PUSKESMAS: "
Pengertian Puskesmas
  • Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja

  • UPT tugasnya adalah menyelenggarakan sebagian tugas teknis Dinas Kesehatan

  • Pembangunan Kesehatan maksudnya adalah penyelenggara upaya kesehatan

  • Pertanggung jawaban secara keseluruhan ada diDinkes dan sebagian ada di Puskesmas

  • Wilayah Kerja dapat berdasarkan kecamatan, penduduk, atau daerah terpencil


Visi Puskesmas
  • Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat

Indikator Kecamatan Sehat:
(1) lingkungan sehat,
(2) perilaku sehat,
(3) cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
(4) derajat kesehatan penduduk kecamatan

Misi Puskesmas
  1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya

  2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya

  3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan

  4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya


Fungsi Puskesmas
  1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan

  2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat

  3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

  4. Pelayanan Kesehatan Perorangan

  5. Pelayanan Kesehatan Masyarakat


Kedudukan
  • Sistem Kesehatan Nasional → sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan UKP dan UKM di wilayah kerjanya.

  • Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota → sebagai UPT Dinas Kesehatan yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan Kabupaten/kota di wilayah kerjanya.

  • adalah sebagai unit pelaksana teknisàSistem Pemerintahan Daerah dinas kesehatan kabupaten/kota yang merupakan unit struktural Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan.

  • Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama → sebagai mitra dan sebagai pembina upaya kesehatan berbasis dan bersumberdaya masyarakat seperti Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa dan Pos UKK.


Struktur Organisasi
  • Kepala Puskesmas

  • Unit Tata Usaha:

  1. Data dan Informasi,

  2. Perencanaan dan Penilaian,

  3. Keuangan, Umum dan Kepegawaian

  • Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas:

  1. UKM / UKBM

  2. UKP

  • Jaringan pelayanan Puskesmas:

  1. Unit Puskesmas Pembantu

  2. Unit Puskesmas Keliling

  3. Unit Bidan di Desa/Komunitas


Tata Kerja
  • Kantor Camat → koordinasi

  • Dinkes → UPT → bertanggung jawab ke Dinkes

  • Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama → sebagi mitra

  • Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat → sebagai pembina

  • Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan →kerjasama

  • Lintas sektor → koordinasi

  • Masyarakat → perlu dukungan/partisipasi →BPP (Badan Penyantun Puskesmas)


Badan Penyantun Puskesmas (BPP)
Pengertian :
  • Suatu organisasi yang menghimpun tokoh-tokoh masyarakat peduli kesehatan yang berperan sebagai mitra kerja Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas.

Fungsi:
  • Melayani pemenuhan kebutuhan penyelenggaraan pembangunan kesehatan oleh Puskesmas (to serve)

  • Memperjuangkan kepentingan kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan oleh Puskesmas (to advocate)

  • Melaksanaan tinjauan kritis dan memberikan masukan tentang kinerja Puskesmas (to watch)


Upaya Puskesmas
  • Ada dua: UKM DAN UKP

  • Upaya kesehatan Wajib → upaya berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta punya daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta wajib diselenggarakan puskesmas di wilayah Indonesia.

  • Upaya Kesehatan Pengembangan → upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas


Upaya Kesehatan Wajib:
1. Upaya Promosi Kesehatan
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
5. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Upaya Pengobatan

Upaya Kesehatan Pengembangan
1. Upaya Kesehatan Sekolah,
2. Upaya Kesehatan Olah Raga,
3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat,
4. Upaya Kesehatan Kerja,
5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut,
6. Upaya Kesehatan Jiwa
7. Upaya Kesehatan Mata,
8. Upaya Kesehatan Usia Lanjut,
9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional.

Azas Penyelenggaraan
  • Azas Pertanggungjawaban Wilayah →bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya

  • Azas Pemberdayaan Masyarakat → Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas

  • Azas Keterpaduan

  1. Azas keterpaduan lintas program → MTBS, UKS, PUSLING, POSYANDU

  2. Azas Keterpaduan Lintas Sektor → UKS, GSI, UKK

  • Azas Rujukan

  1. Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan → kasus, spesimen, ilmu pengetahuan

  2. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat → sarana dan logistik, tenaga, operasional


Manajemen Puskesmas
  • P1: Perencanaan

  1. Rencana Usulan Kegiatan

  2. Rencana Pelaksanaan Kegiatan

  • P2: Pelaksanaan dan Pengendalian

  1. Pengorganisasian

  2. Penyelenggaraan

  3. Pemantauan

  • P3: Pengawasan dan Pertanggungjawaban

  • Pengawasan internal dan eksternal

  • Pertanggungjawaban

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - KONSEP PUSKESMAS
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


PENGUKURAN TINGGI FUNDUS UTERI

Pemantauan kehamilan yang teliti dan reaksi terhadap perawatan adalah vital. Pada setiap kunjungan ibu hamil dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Apabila hasil wawancara atau temuan pemeriksan fisik mencurigakan, dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Salah satu pemantauan kehamilan yang dilakukan adalah pengukuran tinggi fundus uteri. Selama trimester kedua uterus menjadi organ abdomen. Pengukuran tinggi fundus uteri diatas simfisis pubis dipakai sebagai suatu indikator kemajuan pertumbuhan janin. Pengukuran TFU juga dapat memperkirakan usia kehamilan secara kasar.

Pengukuran TFU dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor risiko tinggi. Tinggi fundus yang stabil atau menurun dapat mengindikasikan retardasi pertumbuhan intra uterin, peningkatan yang berlebihan dapat menunjukkan adanya kehamilan kembar atau hidramnion. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengukuran TFU memegang peranan penting dalam pemeriksaan kehamilan dan penting untuk dipelajari dan dikuasai mahasiswa kebidanan. Maka tidak salah jika tujuan akhir handout ini adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa mengenai metode dan efek posisi maternal pada pengukuran TFU sehingga mahasiswa mengerti dan mampu melakukan pengukuran TFU yang cermat dan tepat dalam aplikasi pada pelayanan kebidanan secara nyata di klinik sebagai salah satu bukti kompetensi seorang bidan.

Terdapat 4 metode pengukuran TFU
Metode I

Menentukan TFU dengan mengkombinasikan hasil pengukuran dari memperkirakan dimana TFU berada pada setiap minggu kehamilan dihubungkan dengan simfisis pubis wanita, umbilikus dan ujung dari prosesus xifoid dan menggunakan lebar jari pemeriksa sebagai alat ukur.
Ketidak akuratan metode ini :
  1. Wanita bervariasi pada jarak simfisis pubis ke prosesus xifoid, lokasi umbilikus diantara 2 titik (imajiner) ini.
  2. Lebar jari pemeriksa bervariasi antara yang gemuk dan yang kurus.
Keuntungan :
  1. Digunakan jika tidak ada Caliper atau pita pengukur.
  2. Jari cukup akurat untuk menentukan perbedaan yang jelas antara perkiraan umur kehamilan dengan tanggal dan dengan temuan hasil pemeriksaan dan untuk mengindikasi perlunya pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan ketidak sesuaian dan sebab kelainan tersebut.
Meode II

Metode ini menggunakan alat ukur Caliper. Caliper digunakan dengan meletakkan satu ujung pada tepi atas simfisis pubis dan ujung yang lain pada puncak fundus. Kedua ujung diletakkan
pada garis tengah abdominal. Ukuran kemudian dibaca pada skala cm (centimeter) yang terletak
ketika 2 ujung caliper bertemu. Ukuran diperkirakan sama dengan minggu kehamilan setelah sekitar 22-24 minggu .

Keuntungan :
Lebih akurat dibandingkan pita pengukur terutama dalam mengukur TFU setelah 22-24 minggu kehamilan (dibuktikan oleh studi yang dilakukan Engstrom, Mc.Farlin dan Sitller)
Kerugian :
Jarang digunakan karena lebih sulit, lebih mahal, kurang praktis dibawa, lebih susah dibaca, lebih susah digunakan dibandingkan pita pengukur

Metode III
Menggunakan pita pengukur yang mungkin merupakan metode akurat kedua dalam pengukuran TFU setelah 22-24 minggu kehamilan. Titik nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis dan pita pengukur ditarik melewati garis tengah abdomen sampai puncak. Hasil dibaca dalam skala cm, ukuran yang terukur sebaiknya diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan setelah 22-24 minggu kehamilan.
Keuntungan :
  • Lebih murah, mudah dibawa, mudah dibaca hasilnya, mudah digunakan
  • Cukup akurat
Kerugian :
  • Kurang akurat dibandingkan caliper
Metode IV
Menggunakan pita pengukur tapi metode pengukurannya berbeda. Garis nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis di garis abdominal, tangan yang lain diletakkan di dasar fundus, pita pengukur diletakkan diantara jari telunjuk dan jari tengah, pengukuran dilakukan
sampai titik dimana jari menjepit pita pengukur.
Sehingga pita pengukur mengikuti bentuk abdomen hanya sejauh puncaknya dan kemudian secara relatif lurus ke titik yang ditahan oleh jari-jari pemeriksa, pita tidak melewati slope anterior dari fundus. Caranya tidak diukur karena tidak melewati slope anterior tapi dihitung
secara matematika sebagai berikut ;
  • Sebelum fundus mencapai ketinggian yang sama dengan umbilikus, tambahkan 4 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan
  • Sesudah fundus mencapai ketinggian yang sama dengan umbilikus, tambahkan 6 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya diperkirakan sama dengan jumlah mingu kehamilan
Walaupun sedikit petugas yang menggunakan metode ini, tidak ada penelitian yang dilakukan dapat menujukkan kesamaan pada selisih atau simpangan dari metode-metode lain yang menghasilkan sebuah ukuran dalam skala cm yang menunjukkan apakah formula matematika
ini sungguh-sungguh benar dalam hubungannya dengan jumlah minggu kehamilan
Keuntungan :
Cukup akurat
Kerugian :
Rumit, tidak praktis

Dari ke 4 metode pengukuran diatas, semua memiliki ketidak akuratan karena masing-masing cara tergantung pada ;
  • Posisi wanita saat diperiksa (telentang, kepala/badan diangkat, lutut fleksi, kepala/badan diangkat dan lutut fleksi)
  • Alat ukur yang dipakai (jari, pita pengukur, caliper)
  • Metode pengukuran yang digunakan
  • Syarat yang digunakan (kandung kemih kosong, uterus rileks/kontraksi)
  • Pemeriksa

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - PENGUKURAN TINGGI FUNDUS UTERI
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5


Metode Pendokumentasian SOAP


Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan adalah dengan adanya sistem pendokumentasian yang baik. Sistem pendokumentasian yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai sarana komunikasi antara tenaga kesehatan, sarana untuk dapat mengikuti perkembangan dan evaluasi pasien, dapat dijadikan data penelitian dan pendidikan, mempunyai nilai hukum dan merupakan dokumen yang syah.
Dalam kebidanan banyak hal penting yang harus didokumentasikan yaitu segala asuhan atau tindakan yang diberikan oleh bidan baik pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi, dan keluarga berencana. Tujuan akhir dari hand out ini adalah memberikan pengetahuan pada mahasiswa mengenai 4 langkah dokumentasi SOAP, Memahami SOAP sebagai satu metode rekam medis yang diintisarikan dari manajemen proses asuhan kebidanan dengan sehingga mereka akan mampu menerapkan pendokumentasian pada saat memberikan pelayanan atau asuhan kebidanan
Dokumentasi kebidanan
Adalah suatu sistem pencatatan dan pelaporan informasi tentang kondisi dan perkembangan kesehatan pasien dan semua kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan (Bidan,dokter,perawat dan petugas kesehatan lain).

Manajemen kebidanan
Adalah Proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuanpenemuan, ketrampilan dalam rangkaian /tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien (Varney,1997)

Prinsip dokumentasi SOAP merupakan singkatan dari :
S : Subjektif
  • Menggambarkan pendokumentasian hanya pengumpulan data klien melalui anamnese
  • Tanda gejala subjektif yang diperoleh dari hasil bertanya dari pasien, suami atau keluarga ( identitas umum, keluhan, riwayat menarche, riiwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat KB, penyakit, riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup.)
  • Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa. Pada orang yang bisu, dibagian data dibelakang” S” diberi tanda” 0” atau” X” ini menandakan orang itu bisu. Data subjektif menguatkan diagnosa yang akan dibuat.
O : Objektif
  • Menggambarkan pendokumentasian hasil analaisa dan fisik klien, hasil lab, dan test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment.
  • Tanda gejala objektif yang diperolah dari hasil pemeriksaan ( tanda KU, Fital sign, Fisik, khusus, kebidanan, pemeriksaan dalam, laboratorium dan pemeriksaan penunjang.) Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi .
  • Data ini memberi bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosa. Data fisiologis, hasil observasi yang jujur, informasi kajian teknologi (hasil Laboratorium, sinar X, rekaman CTG, dan lain-lain) dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat dapat dimasukkan dalam kategori ini. Apa yang diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa yang akan ditegakkan.
A : Assesment
  • Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau disimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah dan selalu ada informasi baru baik subjektif maupun objektif, dan sering diungkapkan secara terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah suatu proses yang dinamik. Sering menganalisa adalah sesuatu yang penting dalam mengikuti perkembangan pasien dan menjamin suatu perubahan baru cepat diketahui dan dapat diikuti sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.
  • Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi :
1. Diagnosa /masalah
  • Diagnosa adalah rumusan dari hasil pengkajian mengenai kondisi klien : hamil, nbersalin, nifas dan bayi baru lahir .Berdaasarkan hasil analisa data ynag didapat.
  • Masalah segala sesuatu yang menyimpang sehingga kebutuhan klien terganggu, kemungkinan mengganggu kehamilan/kesehatan tetapi tidak masuk dalam diagnosa.
2. Antisipasi masalah lain/diagnosa potensial

P : Perencanaan
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang. Untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik mungkin atau menjaga mempertahankan kesejahteraannya. Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu tertentu, tindakan yang diambil harus membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehaan dan harus sesuai dengan instruksi dokter.
SOAPIER
Data Subjektif (S )
Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa. Pada orang yang bisu, dibagian data dibelakang” S” diberi tanda” 0” atau” X” ini menandakan orang itu bisu. Data subjektif menguatkan diagnosa yang akan dibuat.

Data Objektif
Data ini memberi bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosa. Data fisiologis, hasil observasi yang jujur, informasi kajian teknologi (hasil Laboratorium, sinar X, rekaman CTG, dan lain-lain) dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat dapat dimasukkan dalam kategori ini. Apa yang diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa yang akan ditegakkan.

Analisa/Assesment
Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau disimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah dan selalu ada informasi baru baik subjektif maupun objektif, dan sering diungkapkan secara terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah suatu proses yang dinamik. Sering menganalisa adalah sesuatu yang penting dalam mengikuti perkembangan pasien dan menjamin suatu perubahan baru cepat diketahui dan dapat diikuti sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

Perencanaan
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang. Untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik mungkin atau menjaga mempertahankan kesejahteraannya. Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu tertentu, tindakan yang diambil harus membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatan dan harus sesuai dengan instruksi dokter.

Implementasi
Pelaksanaan rencana tindakan untuk menghilangkan dan mengurangi masalah klien. Tindakan ini harus disetujui oleh klien kecuali bila tidak dilaksanakan akan membahayakan keselamatan klien. Oleh karena itu klien harus sebanyak mungkin menjadi bagian dari proses ini. Bila kondisi klien berubah, intervensi mungkin juga harus berubah atau disesuaikan.

Evaluasi
Tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil merupakan hal penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan. Analisis dari hasil yang dicapai menjadi fokus dari ketepatan nilai tindakan. Jika kriteria tujuan tidak tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan alternatif sehingga mencapai tujuan.

Revisi
Komponen evaluasi tindakan dapat menjadi petunjuk perlunya perbaikan dari perubahan intervensi dan tindakan atau menunjukkan perubahan dari rencana awal atau perlu suatu kolaborasi baru atau rujukan. Implementasi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat berdasarkan prioritas dan kebutuhan akan mengoptimalkan hasil yang dicapai. Target dan waktu penting untuk diperhatikan dalam proses ini.

SOAPIED

Pada prinsipnya sama dengan keterangan diatas, hanya saja metode pendokumentasian ini dibuat lebih tereksplisit sehingga dapat benar-benar menggambarkan urutan kejadian dari pasien datang ke RS dengan keluhan yang ada sampai saat pasien pulang, baik karena sudah sembuh dari sakitnya ataupun karena pulang paksa serta alasan-alasan lain.

http://ktiskripsi.blogspot.com/
lihat artikel tentang - Metode Pendokumentasian SOAP
Konetn 1 Konten 2 Konten 3 Konten 4 Konten 5

Artikel yang berhubungan:

kti